Rabu, 06 Mei 2020

Catatan Jejak Tribun: Bondo Nekat Penjaga Jiwa Surabaya


Rabu, 25 Juli 2018


Keberangkatan agaknya menjadi titik yang bisa menjadi pengingat awal mula dari semua perjalanan tentang menikmati sepak bola. Ingatan akan momen-momen yang ada di tiap keberangkatan itu selalu saja membekas dan mampu menjadi pintu gerbang untuk melaju pada ingatan-ingatan setelahnya.


Pagi itu di Stasiun Purwokerto saya dilanda kepanikan. Bagaimana tidak, keberangkatan kereta tidak lebih dari lima menit lagi dari waktu yang sudah dijadwalkan, dan kawan perjalanan kala itu masih tersisa satu yang belum berkumpul di depan pintu masuk stasiun, bahkan kedua mata yang sebisa mungkin menjangkau tempat-tempat yang ada di stasiunpun belum melihatnya. Dihubungi tidak bisa, ditunggu makin membuat panik. Beruntung tak lama berselang, ia terlihat. Berlarian kami untuk menuju kereta. Menjadi awal yang berat, pikir saya. Karena hal yang terjadi selanjutnya di kereta sudah terbayang-bayang semalaman, perjalanan kereta hampir sepuluh jam! Dan kini ditambah pula keberangkatan yang ngos-ngosan, sungguh melelahkan.


Ai, Surabaya! Panas betul, panasnya sementlep! Itulah kira-kira gumam pertama saya kepada Surabaya ketika kereta itu sampai di Stasiun Surabaya Gubeng. Tapi tidak apa-apa, kapan lagi ada waktu yang longgar dan uang yang cukup untuk menikmati tim kebanggaan saya melawan Persebaya Surabaya. Turun dari kereta, rombongan terbagi dua. Kawan saya bersama kawan kuliahnya memisahkan diri menuju penginapan, sementara saya menunggu kawan SMA untuk rencananya ikut dalam menikmati sepak bola di Surabaya. Sengaja saya ajak karena dia sedang kuliah di Surabaya dan ajakan saya langsung diiyakan, “sebagai mahasiswa Surabaya, masa ga pernah nonton Persebaya”, ucapnya. Duh, betapa tidak enaknya, ternyata kuliah sedang libur dan dia sengaja untuk ke Surabaya untuk menemani saya. Walau katanya juga ada urusan di kampusnya, tapi tetap saja saya tidak enak hati hehe. Pikir saya, kawan saya ini layaknya bondo nekat (Bonek) Surabaya, yang nekat mendampingi dan menjaga saya selama di Surabaya. Terima kasih, Az!


Kamis, 26 Juli 2018

Hari pertandingan itu telah tiba! Rombongan akhirnya berkumpul lagi di tempat penginapan dan semua sudah bersiap sejak siang hari untuk menikmati pertandingan yang akan digelar sehabis maghrib itu, biasa, prematch syndrome selalu memuncak hebat ketika menikmati sepak bola secara langsung di stadion. Berangkatlah kami dengan ditemani oleh Bonek yang dikenal oleh kawan saya. Canda tawa sudah terasa walau pertama bertemu, tak ada kecanggungan. Diajaknya kami di warung pinggir sungai tengah kota dan dipersilahkan untuk bersantai sejenak sembari menikmati hidangan minuman yang menyegarkan dahaga di siang panas yang terik.


Menjelang sore kami bergegas menuju Stadion Bung Tomo. Mobil baru keluar dari tol dan jalanan sudah ramai dengan bonek yang berjalan kaki menuju stadion untuk mendukung tim kebanggaannya. Tak sedikit pula pendukung Persib Bandung yang hadir langsung di stadion, maka bercampurlah satu sama lain di stadion itu. Bonek-bonek begitu ramah dan gelak tawa selalu ada di ruang-ruang yang ada di stadion. Semua yang ada di situ merayakan pertandingan itu, tak ada pengecualian. Dan sebagai tuan rumah, bonek mampu menunjukkan jiwa yang ada pada Surabaya dengan begitu baiknya, menjaga tradisi-tradisi yang ada seakan tradisi itu tidak pernah hilang pada diri Surabaya. Sore yang hangat.


Menjelang dimulainya pertandingan malam itu, antara pendukung Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menyatu seolah tidak ada sekat yang tebal. Bernyanyi bersama, melompat bersama, saling berbalas chant, ataupun saling memberi ruang untuk saya bernafas karena begitu sesaknya stadion pada malam hari itu. Ah, lagi-lagi, bondo nekat menjaga jiwa Surabaya dengan nyanyian yang lantang, lompatan yang begitu energik. Karakter itu yang mampu meninggikan nama Persebaya Surabaya dan  saya berkesempatan langsung berada di satu stadion untuk mengamini segala predikat yang ada pada bonek, Persebaya dan Surabaya. Bahkan, sayapun sampai bergetar sekaligus berkaca-kaca karena begitu khusyuknya bondo nekat-bondo nekat itu menyanyikan lagu yang menjadi “lagu kebangsaan” Persebaya, Song For Pride.


Kemenangan berpihak pada Persib Bandung, Dramatis! 3-4 menjadi skor akhir pertandingan malam itu. Persebaya memang sedang berada di fase yang tidak baik kala itu, dan bondo-bondo nekat itu memahami sepanuhnya. Atas dasar cinta sepenuh hati yang ada dalam diri tiap-tiap bondo nekat, mereka melakukan segala macam kritik yang bisa dilakukan malam itu. “maine koyo taek! maine koyo taek!” bergema begitu keras, seolah lantunan itu menjadi tamparan yang telak untuk Persebaya dengan permainannya yang buruk. Sampah-sampah yang ada ditumpuk dan dibakar, seolah menunjukkan bahwa permainan yang layaknya sampah itu sudah seharusnya dihanguskan dari Persebaya. Stadion mulai ditinggalkan oleh bonek sebelum pertandingan berakhir, seolah mereka jengah untuk terus melihat kondisi Persebaya yang tidak seharusnya.


Pada akhirnya, malam itu, bondo-bondo nekat itu menjadi penjaga terakhir dari jiwa Surabaya yang bahkan  ketika Persebaya sudah mulai kehilangan jiwa Surabayanya, bondo-bondo nekat itu tetap menjaga jiwa Surabayanya. Bondo-bondo nekat itu, pada akhirnya, menjadi sosok yang paling memahami bagaimana seharusnya Persebaya memiliki jiwa Surabaya. Bondo-bondo nekat itu tahu. Dengan segala label-label baik positif maupun negatif, bondo-bondo nekat itu tetap tahu dan akan selalu tahu.


Kekalahan itu tak menjadikan bonek yang mendampingin seharian penuh rombongan saya menjadi berbeda sikap. Mereka tetap tahu bagaimana membagi antara kekesalan dengan Persebaya dan mengayomi tamunya dengan baik. Walaupun kalah, di perjalanan pulang canda tawa tetap menghiasi ruang sempit di dalam mobil karena terisi penuh. Bahkan, walaupun kalah, dengan baiknya bonek-bonek itu memberikan makan gratis kepada kami di Taman Apsari.  Betapa bondo-bondo nekat itu tetap mengayomi tamunya, jiwa-jiwa Surabaya itu terbukti tetap ada dalam kondisi apapun.


Jumat, 27 Juli 2018


Siang itu saya meninggalkan Surabaya dengan pemahaman bahwa Bonek untuk Persebaya dan Surabayanya selalu patut diberikan rasa hormat. Pendukung yang selalu total dan loyal untuk sebuah tim dan kota yang dibanggakannya, mereka tahu harus mendukung dengan seperti apa di setiap kondisi yang berbeda.

Minggu, 03 Mei 2020

Perjumpaan Pertama Dengan Zen RS



"Penulis yang baik adalah penulis yang lebih banyak membaca daripada menulis. Pembaca yang baik adalah pembaca yang lebih banyak berpikir daripada membaca", ucap Zen RS dalam kelas online tentang penulisan esai di Patjarmerah Kaget Virtual.

Tepat tengah malam, berita itu tiba-tiba muncul di twitter! Tiket gratis Kelas Virtual bertajuk "Soal Menulis Esai yang (Mungkin) Jarang Dibicarakan". Kelas yang mungkin biasa terjadi di dunia penulisan, tapi ini berbeda. Pembicaranya adalah Zen RS! Duh, sontak bergeraklah jari-jari ini untuk ikut dalam ujian keberuntungan itu. Berharap penuh dan, Ah! Gagal. Kesekian kalinya ketidakberuntungan itu berpihak kepada saya. Nasib baik kawan saya mendapatkan tiket gratisnya, dan alangkah beruntungnya dia memberikan tiket tersebut kepada saya. Jadilah saya, ketidakberuntungan yang beruntung, hahaha. Terkadang dalam hidup, kegagalan harus dilalui agar mencapai keberhasilan, atau agak lebih tepatnya, keberuntungan.

Kelas tersebut seolah-olah menjadi hal yang segar dalam keseharian yang begitu membosankan pada akhir-akhir ini dan jadilah perjumpaan yang pertama kali (duh, sayangnya cuma virtual) dengan idola atau panutan atau abang-abangan, apapun itu, dari semenjak SMA. Adalah Zen RS, orang yang mengenalkan media massa, pentingnya membaca buku, cara menulis tulisan yang baik, menikmati  dunia sejarah, mengenal Pramoedya Ananta Toer, George Orwell, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Soekarno, dan segala macam hal yang berkaitan dengan sastra, sejarah ataupun jurnalistik.

Kelas bersama Zen RS sudah menjadi hal yang tidak mungkin bisa dilewatkan, kegiatan sehari-hari saya tinggalkan sejenak. Memancing, membaca buku untuk menyelesaikan halaman-halaman akhir 1984nya Orwell, bermain komputer atau bahkan skripsi, semua saya tanggalkan terlebih dahulu demi kelas itu. Dan pada akhirnya, inilah ringkasan yang bisa saya tuliskan, agar tetap ada walaupun sudah dicatat di buku. Kalau kata orang kan, jejak digital di zaman kiwari menjadi hal yang tidak bisa dihilangkan, walaupun menurut saya tetap ada pihak yang bisa menghilangkan, iya betul, Soeharto. Orang aja bisa dihilangkan apalagi jejak digital, hihihi.

Terlambat masuk kelas! Ah, urusan organisasi kampus memang selalu saya utamakan sampai-sampai masuk kelas ke tokoh idolapun terlambat karena ada diskusi terkait program kerja organisasi. Barulah masuk sedang sudah berjalan sekitar 15menit, tapi untungnya masih di pembahasan awal. Baik, akan saya mulai dengan sedetail mungkin sampai akhir ringkasan.

Awal kelas membicarakan intisari penulisan sebelum masuk ke dalam penulisan esai. Prinsip dasar menulis, ucap Zen, adalah bagaimana pesan tulisan dapat tersampaikan jelas dengan penulisan kalimat-kalimat yang logis. Penggunaan kosakata harus digunakan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, bukan hanya untuk gegayaan ataupun mentasbihkan diri sebagai orang yang memiliki banyak kosakata. Selanjutnya, kepekaan dalam logika bahasa menjadi hal yang penting agar pesan dapat tersampaikan. Oleh karenanya, pahamilah bahasa indonesia sebagai suatu permasalahan dalam menyusun kalimat seperti saat menulis menggunakan bahasa inggris yang tentunya kita memikirkan tata bahasanya. Karena kita-kita ini, warga indonesia, terlampau meremehkan sehingga tidak terlalu menjadikan bahasa indonesia sebagai problematika penulisan. Tidak begitu paham SPOK yang benar, penggunaan konjungsi, dan macam-macamnya yang berakibat tulisan menjadi buruk karena pesannya tidak dapat tersampaikan dengan baik. Ringkasnya, Zen menyebutkan bahwa, "tulislah dengan kalimat yang benar dan secara logika bisa tuntas agar tulisan dapat tersampaikan dengan baik dan tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda".

Berlanjut ke dalam diskusi mengenai esai, disebutkan bahwa esai merupakan sesuatu yang kita kenal dengan baik karena sehari-hari, apalagi bagi individu yang mengeyam sekolah, sudah pasti pernah menulis esai. Esai sendiri pada awal mulanya dikenalkan oleh Montaigne pada abad 16 yang ditujukan untuk percobaan penyampaian gagasan dari pemikiran diri tentang suatu objek tertentu, bukan tulisan sebuah hasil yang final, tetapi percobaan, coba. Oleh karenanya, esai berada di tengah-tengah subjektivitas (karya sastra ataupun sajak) dan objektivitas (karya ilmiah). Mangan Ora Mangan Kumpul-nya Umar Kayam adalah contoh nyata esai layaknya karya sastra, sedangkan Madilog-nya Tan Malaka adalah contoh nyata esai yang mendekati Karya Ilmiah.

Alangkah baiknya, sama seperti tulisan lain, esai ditulis dengan menentukan medium yang menjadi target dan tujuan tulisan. Setelah itu baru kemudian dipahami akan seperti apa gaya penulisan, format penulisan, dan lain-lainnya dalam esai. Contohnya adalah menulis dalam media massa macam Tirto, Tempo atau Kompas, mereka memiliki ideologinya masing-masing yang menjadikan medium penulisannya berbeda. Maka, pahamilah medium dari masing-masing tersebut, jika kita salah dalam menentukan medium tersebut, celakalah kita, tulisan akan gagal untuk berhasil. 

Kemudian dipaparkanlah, yang dalam penyebutan oleh Zen, tujuh pertaruhan esai. Pertaruhan. Ketujuh pertaruhan itu adalah:

1. Tema tulisan.
Tema harus segar! Kalau tidak ada yang segar, tema harus dituliskan dengan sudut pandang yang menarik.

2. Judul yang cerdas.
Judul tidak melulu tentang rangkuman tulisan dalam satu kalimat. Mulailah mencari judul dalam bentuk frase yang padat, yang terbentuk dari kalimat-kalimat yang menarik dalam tulisan esai.

3. Pembukaan yang memikat.
Hal-hal yang menarik, taruhlah menjadi garda terdepan tulisan. Bagusnya pembukaan, akan membuat pembaca terpukau akan tulisan dan memilih untuk meneruskan membaca sampai tuntas.

4. Padat dan tidak bertele-tele.
Ruang tulisan menjadi penting untuk diperhatikan oleh penulis. Tulislah yang penting dan hindari kalimat-kalimat yang tidak penting. Karena jebakan yang paling sering membuat pembaca terjerembab adalah melantur.

5. Kutipan yang menggoda.
Zen mengibatkan kutipan layaknya parfum, mampu menjadikan hidup mengembang namun bisa juga mengempis. Carilah kutipan yang sesuai dan pahamilah bahwa kutipan merupakab sesuatu di luar dunia penulisan yang sedang dibangun untuk mempertajam apa yang ingin disampaikan.

6. Bahan atau sumber penulisan.
Semakin banyak bahan, maka akan semakin banyak referensi, tugas penulislah yang kemudian menyortir bahan-bahan mana yang sesuai. Adanya bahan tulisan yang relevan akan menjadikan tulisan lebih hidup dalam menjelaskan.

7. Lancar.
Ketidaklancaran menulis berakibat pada tulisan yang buruk. Baca kembali esai dan rasakan dengan kepekaan, maka akan ditemukan titik-titik Ketidaklancaran esai. Hal itu tentukan dengan membaca menggunakan sudut pandang berbeda, misal sebagai pembaca, bukan penulis. Karena penulis yang baik juga sebagai editor yang baik, habisi tulisanmu sendiri! Preteli hingga tidak ada sisa kecacatan dalam tulisanmu!

8. Penutup yang mudah diingat.
Susunlah penutup yang mudah diingat oleh pembaca, agar tulisan akan tetal dikenang dan mampu menjadi tulisan yang baik.

Itulah ringkasan yang bisa didapatkan, hampir dua jam setengah dan tidak terasa! Mata dan telinga mendengar, otak berpikir, tangan menulis. Sebuah kelas yang mampu mendorong semangat untuk (lagi-lagi) bekerja dalam dunia jurnalistik, mendorong semangat untuk menulis kembali (seperti saat menulis tulisan ini), dan mendorong untuk membaca banyak tulisan kembali.

Mari banyak-banyak berpikir, wahai diri sendiri! Mari mulai lagi banyak membaca, wahai diri sendiri! Menulis, menulis dan menulis! Karena Pram menyebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah dia yang menulis, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian. Tulisan akan abadi, manusia tidak.

Sabtu, 02 Mei 2020

Memahami Minoritas


Jika Tuan ingin memulai untuk memahami dan mencoba turut serta dalam ke-minoritasan kami, yang pertama harus Tuan pahami adalah rasa kebersamaan dan kekeluargaan, rasa yang mendasari bagaimana keminoritasan dapat terus solid dan akan terus solid. Pahamilah dengan betul, Tuan. Resapi dengan benar-benar, Tuan.

Setiap Tuan melihat ke-minoritasan kami dari sudut pandang mayoritas, tentu akan dapat Tuan pahami dengan begitu mudah bahwa kami yang minoritas itu lemah, tak berdaya. Terlampau sedikit harapan untuk menciptakan apa yang menjadi harapan bersama. Terlampau sedikit pengaruh perubahan dan perjuangan yang dapat kami perjuangkan. Ya, begitu kan yang Tuan pikirkan selama ini?

Namun cobalah Tuan memahami kami, kami yang sebagai minoritas ini. Pahamilah rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang tumbuh dalam diri kami, kami yang Tuan anggap tak seberapa dan dipandang sebelah mata. Rasa kebersamaan yang tumbuh dalam diri kami begitu hebat, Tuan. Di dalam ke-minoritasan kami ini, rasa itu tumbuh seiring dengan berbagai rintangan dan permasalahan yang kami lalui. Kami selalu bersama dalam menghadapi rintangan dan permasalahan itu. Rasa kebersamaan itu tumbuh dengan sendirinya dari dalam diri ini, Tuan, dari dalam jiwa ini. Tumbuh semakin kuat, semakin besar, sehingga kami percaya segala rintangan dan permasalahan yang ada didepan sana dapat kami lalui dengan mudah. Kami lalui dengan rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan yang tumbuh tanpa paksaan. Kau sudah memahaminya, Tuan? Indah betul bukan?

Rasa kebersamaan ini, Tuan. Rasa kebersamaan ini menjadikan kami keluarga. Kekeluargaan kami sangat erat. Terlalu erat untuk bisa dilepaskan dan dipisahkan. Kekeluargaan yang begitu indah. Adalah sangat luar biasa kami sebagai minoritas dapat merasakan kekeluargaan yang begitu indah ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan terwujud kekeluargaan yang begitu erat dan hebat  dalam ke-minoritasan kami ini, Tuan. Sudahkan Tuan mendapatkan kekeluargaan yang begitu indah ini? Sudah atau belum, Tuan?

Jikalau Tuan sudah paham betul tentang rasa kebersamaan dan kekeluargaan kami ini, marilah melanjutkan perjalanan kepada rasa saling menjaga dan keterbukaan. Dalam konteks ini, tentunya Tuan berfikir hanya saling menjaga dalam hal menjaga satu sama lain bukan? Tidak, Tuan, tidak. Lebih dari itu, Tuan. Sungguh.

Rasa saling menjaga tentu bukan hanya dalam menjaga satu sama lain saja. Kami dalam setiap diri mulai belajar dan mulai mencoba untuk saling menahan egoisme, rasa egoisme ini perlahan-lahan mulai kami pendam. Semua ini agar tetap terjaga kesatuan yang telah kami bangun. Tentunya kami juga menjaga perkataan kami, tingkah laku kami, dan segala-galanya. Kau berfikir mengapa harus susah payah seperti itu kan, Tuan? Tidak, Tuan. Kami tidak terbebani dengan apa yang kami lakukan ini, karena ini untuk kebaikan kami semua. Dan kami lakukan ini tanpa paksaan, Tuan.

Keterbukaan menjadi hal yang penting, Tuan. Pahamilah dengan baik. Keterbukaan menjadikan kami mengerti satu dengan yang lain, Tuan. Tak perlu ada rahasia yang ditutup-tutupi, karena kami ini keluarga. Jika ada hal yang dirasa kurang baik, kami membicarakannya dengan keterbukaan, toh dengan ini hal tersebut dapat diatasi dengan baik. Dan dengan keterbukaan ini, kita semakin kuat. Begitu kuat. Dan begitu indah. Indah betul, Tuan.

Sudahkan Tuan memahami semua yang menjadikan kami begitu solid? Sudah? Baiklah, Tuan rupanya sudah memahaminya. Namun, masih ada satu hal lagi yang mendasari semua itu, Tuan. Mau taukah Tuan apakah itu? Kebahagiaan, Tuan. Ya, kebahagiaan. Kami yang ter-minoritaskan selalu bahagia dengan apa yang kami lakukan, baik yang kami lakukan itu berpengaruh kecil ataupun besar. Kami selalu mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kami yang minoritas ini.

Tak ada keterpaksaan, karena sudah ada kebersamaan yang kuat. Tak ada perbedaan yang membuat kami membeda-bedakan, karena kami semua sama dan kami merupakan keluarga. Tak ada rasa tidak aman, karena kami saling menjaga satu sama lain. Tak ada permusuhan dan saling benci, karena kami selalu terbuka dalam segala hal. Dan tak ada kesedihan, karena sudah tertutupi oleh kebahagiaan.

Begitulah, Tuan. Begitulah memahami kami. Sudah pahamkah Tuan? Sudah? Baiklah, Tuan, sekarang apakah Tuan mau mencoba untuk turut serta dalam ke-minoritasan kami ini? Atau Tuan tetap memandang kami sebelah mata?

Perihal Asas Untuk Generasi Muda

"Barang siapa tidak tahu bersetia pada asas, dia telah terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati” – Pramoedya Ananta Toer, dalam Anak Semua Bangsa.

Sesaat setelah saya membaca kalimat tersebut, saya menghentikan membaca buku Anak Semua Bangsa karya Pramoedya. Baru berberapa lembar halaman yang saya baca memang, namun kalimat tersebut dengan cepat menguasai pikiran saya. Pikiran seorang anak muda yang masih tak tentu arahnya ini. Ya, pikiran saya. Ya, saya mulai memikirkan tentang asas. Asas yang harusnya sudah saya pegang untuk kehidupanku dimasa depan.

Anak seumuran saya, anak remaja yang disebut-sebut sebagai generasi muda Indonesia ini memang seharusnya mempunyai asas yang digunakan sebagai pedoman untuk masa depan. Saya termasuk generasi muda Indonesia, namun sialnya saya belum mempunyai asas yang bisa saya gunakan untuk pedoman di masa mendatang. Saya paham betul kalau saya masih seperti ini. Saya masih tidak tahu bersetia pada asas.

Di dalam pikiran saya ini sudah mulai banyak asas yang saya serap, sungguh. Saya sudah mencoba berpegang teguh pada suatu asas, asas yang setidak-tidaknya baik untuk masa depan saya, namun saat mempelajari asas lainnya, saya terpengaruh. Saya masih tidak tahu bersetia pada asas. Saya sebagai generasi muda memang masih mudah terpengaruh, tapi hal ini sungguh tidak saya harapkan.

Saya percaya bahwa seiring waktu kami akan memahami berbagai asas dan kami bisa berpegang teguh pada asas yang menurut diri kami asas itu baik untuk dijadikan pedoman di masa datang. Tapi untuk diri saya, entah kapan dan bagaimana. Saya juga percaya bahwa asas yang kita jadikan pedoman itu, akan sangat-sangat berpengaruh untuk masa depan kita.

Di zaman yang sudah seperti ini, zaman modern, kami sebagai generasi muda pada akhirnya dituntut untuk selalu berpikir ke masa depan. Kami generasi muda pada zaman ini, sudah terlalu sulit untuk menikmati masa muda yang kata banyak orang itu indah dan menyenangkan. Tidak, masa muda saya kini diisi oleh beban pikiran untuk menjadi baik di masa depan, menjadi apa yang kami harapkan sedari kecil. Tentu untuk masa depan yang kami harapkan itu, kami harus memiliki asas untuk dijadikan pedoman. Suatu asas yang sesuai dengan diri kami.

Saya sedang tidak berbicara tentang agama. Agama saya kira kami semua sudah memiliki itu sejak lahir, toh kami kan beriman dan beragama. Saya sendiri menginginkan lebih dari pedoman agama saja. Saya ingin ada asas yang bisa menyeimbangkan pikiran saya. Karena ini sudah zaman modern, pedoman agama tujuan utamanya untuk akhirat kami nanti. Saya berpikir bahwa kami harus memiliki asas untuk menghadapi dunia yang terlampau rumit ini.

Ya begitulah sekira-kiranya tentang masalah asas yang menguasai pikiranku ini. Jadi, kami sebagai generasi muda harus memiliki asas untuk masa depan yang ingin kami raih. Ya, setidak-tidaknya menurut pemikiran saya ini.