Keberangkatan agaknya menjadi titik
yang bisa menjadi pengingat awal mula dari semua perjalanan tentang menikmati
sepak bola. Ingatan akan momen-momen yang ada di tiap keberangkatan itu selalu
saja membekas dan mampu menjadi pintu gerbang untuk melaju pada ingatan-ingatan
setelahnya.
Pagi itu di Stasiun Purwokerto saya
dilanda kepanikan. Bagaimana tidak, keberangkatan kereta tidak lebih dari lima
menit lagi dari waktu yang sudah dijadwalkan, dan kawan perjalanan kala itu
masih tersisa satu yang belum berkumpul di depan pintu masuk stasiun, bahkan
kedua mata yang sebisa mungkin menjangkau tempat-tempat yang ada di stasiunpun
belum melihatnya. Dihubungi tidak bisa, ditunggu makin membuat panik. Beruntung
tak lama berselang, ia terlihat. Berlarian kami untuk menuju kereta. Menjadi
awal yang berat, pikir saya. Karena hal yang terjadi selanjutnya di kereta sudah
terbayang-bayang semalaman, perjalanan kereta hampir sepuluh jam! Dan kini
ditambah pula keberangkatan yang ngos-ngosan, sungguh melelahkan.
Ai, Surabaya! Panas betul, panasnya
sementlep! Itulah kira-kira gumam
pertama saya kepada Surabaya ketika kereta itu sampai di Stasiun Surabaya
Gubeng. Tapi tidak apa-apa, kapan lagi ada waktu yang longgar dan uang yang
cukup untuk menikmati tim kebanggaan saya melawan Persebaya Surabaya. Turun
dari kereta, rombongan terbagi dua. Kawan saya bersama kawan kuliahnya
memisahkan diri menuju penginapan, sementara saya menunggu kawan SMA untuk
rencananya ikut dalam menikmati sepak bola di Surabaya. Sengaja saya ajak
karena dia sedang kuliah di Surabaya dan ajakan saya langsung diiyakan,
“sebagai mahasiswa Surabaya, masa ga pernah nonton Persebaya”, ucapnya. Duh,
betapa tidak enaknya, ternyata kuliah sedang libur dan dia sengaja untuk ke
Surabaya untuk menemani saya. Walau katanya juga ada urusan di kampusnya, tapi
tetap saja saya tidak enak hati hehe. Pikir saya, kawan saya ini layaknya bondo
nekat (Bonek) Surabaya, yang nekat mendampingi dan menjaga saya selama di Surabaya.
Terima kasih, Az!
Kamis, 26 Juli 2018
Hari pertandingan itu telah tiba! Rombongan
akhirnya berkumpul lagi di tempat penginapan dan semua sudah bersiap sejak
siang hari untuk menikmati pertandingan yang akan digelar sehabis maghrib itu,
biasa, prematch syndrome selalu
memuncak hebat ketika menikmati sepak bola secara langsung di stadion.
Berangkatlah kami dengan ditemani oleh Bonek yang dikenal oleh kawan saya.
Canda tawa sudah terasa walau pertama bertemu, tak ada kecanggungan. Diajaknya
kami di warung pinggir sungai tengah kota dan dipersilahkan untuk bersantai
sejenak sembari menikmati hidangan minuman yang menyegarkan dahaga di siang
panas yang terik.
Menjelang sore kami bergegas menuju
Stadion Bung Tomo. Mobil baru keluar dari tol dan jalanan sudah ramai dengan
bonek yang berjalan kaki menuju stadion untuk mendukung tim kebanggaannya. Tak
sedikit pula pendukung Persib Bandung yang hadir langsung di stadion, maka
bercampurlah satu sama lain di stadion itu. Bonek-bonek begitu ramah dan gelak
tawa selalu ada di ruang-ruang yang ada di stadion. Semua yang ada di situ
merayakan pertandingan itu, tak ada pengecualian. Dan sebagai tuan rumah, bonek
mampu menunjukkan jiwa yang ada pada Surabaya dengan begitu baiknya, menjaga
tradisi-tradisi yang ada seakan tradisi itu tidak pernah hilang pada diri
Surabaya. Sore yang hangat.
Menjelang dimulainya pertandingan
malam itu, antara pendukung Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menyatu
seolah tidak ada sekat yang tebal. Bernyanyi bersama, melompat bersama, saling
berbalas chant, ataupun saling
memberi ruang untuk saya bernafas karena begitu sesaknya stadion pada malam
hari itu. Ah, lagi-lagi, bondo nekat menjaga jiwa Surabaya dengan nyanyian yang
lantang, lompatan yang begitu energik. Karakter itu yang mampu meninggikan nama
Persebaya Surabaya dan saya berkesempatan langsung berada di satu
stadion untuk mengamini segala predikat yang ada pada bonek, Persebaya dan
Surabaya. Bahkan, sayapun sampai bergetar sekaligus berkaca-kaca karena begitu
khusyuknya bondo nekat-bondo nekat itu menyanyikan lagu yang menjadi “lagu
kebangsaan” Persebaya, Song For Pride.
Kemenangan berpihak pada Persib
Bandung, Dramatis! 3-4 menjadi skor akhir pertandingan malam itu. Persebaya
memang sedang berada di fase yang tidak baik kala itu, dan bondo-bondo nekat
itu memahami sepanuhnya. Atas dasar cinta sepenuh hati yang ada dalam diri
tiap-tiap bondo nekat, mereka melakukan segala macam kritik yang bisa dilakukan
malam itu. “maine koyo taek! maine koyo taek!” bergema begitu keras, seolah
lantunan itu menjadi tamparan yang telak untuk Persebaya dengan permainannya
yang buruk. Sampah-sampah yang ada ditumpuk dan dibakar, seolah menunjukkan
bahwa permainan yang layaknya sampah itu sudah seharusnya dihanguskan dari
Persebaya. Stadion mulai ditinggalkan oleh bonek sebelum pertandingan berakhir,
seolah mereka jengah untuk terus melihat kondisi Persebaya yang tidak
seharusnya.
Pada akhirnya, malam itu,
bondo-bondo nekat itu menjadi penjaga terakhir dari jiwa Surabaya yang bahkan ketika Persebaya sudah mulai kehilangan jiwa
Surabayanya, bondo-bondo nekat itu tetap menjaga jiwa Surabayanya. Bondo-bondo
nekat itu, pada akhirnya, menjadi sosok yang paling memahami bagaimana
seharusnya Persebaya memiliki jiwa Surabaya. Bondo-bondo nekat itu tahu. Dengan
segala label-label baik positif maupun negatif, bondo-bondo nekat itu tetap
tahu dan akan selalu tahu.
Kekalahan itu tak menjadikan bonek
yang mendampingin seharian penuh rombongan saya menjadi berbeda sikap. Mereka tetap
tahu bagaimana membagi antara kekesalan dengan Persebaya dan mengayomi tamunya
dengan baik. Walaupun kalah, di perjalanan pulang canda tawa tetap menghiasi
ruang sempit di dalam mobil karena terisi penuh. Bahkan, walaupun kalah, dengan
baiknya bonek-bonek itu memberikan makan gratis kepada kami di Taman Apsari. Betapa bondo-bondo nekat itu tetap mengayomi
tamunya, jiwa-jiwa Surabaya itu terbukti tetap ada dalam kondisi apapun.
Jumat, 27 Juli 2018
Siang itu saya meninggalkan Surabaya dengan pemahaman bahwa Bonek untuk Persebaya dan Surabayanya selalu patut
diberikan rasa hormat. Pendukung yang selalu total dan loyal untuk sebuah tim
dan kota yang dibanggakannya, mereka tahu harus mendukung dengan seperti apa di
setiap kondisi yang berbeda.


