Rabu, 06 Mei 2020

Catatan Jejak Tribun: Bondo Nekat Penjaga Jiwa Surabaya


Rabu, 25 Juli 2018


Keberangkatan agaknya menjadi titik yang bisa menjadi pengingat awal mula dari semua perjalanan tentang menikmati sepak bola. Ingatan akan momen-momen yang ada di tiap keberangkatan itu selalu saja membekas dan mampu menjadi pintu gerbang untuk melaju pada ingatan-ingatan setelahnya.


Pagi itu di Stasiun Purwokerto saya dilanda kepanikan. Bagaimana tidak, keberangkatan kereta tidak lebih dari lima menit lagi dari waktu yang sudah dijadwalkan, dan kawan perjalanan kala itu masih tersisa satu yang belum berkumpul di depan pintu masuk stasiun, bahkan kedua mata yang sebisa mungkin menjangkau tempat-tempat yang ada di stasiunpun belum melihatnya. Dihubungi tidak bisa, ditunggu makin membuat panik. Beruntung tak lama berselang, ia terlihat. Berlarian kami untuk menuju kereta. Menjadi awal yang berat, pikir saya. Karena hal yang terjadi selanjutnya di kereta sudah terbayang-bayang semalaman, perjalanan kereta hampir sepuluh jam! Dan kini ditambah pula keberangkatan yang ngos-ngosan, sungguh melelahkan.


Ai, Surabaya! Panas betul, panasnya sementlep! Itulah kira-kira gumam pertama saya kepada Surabaya ketika kereta itu sampai di Stasiun Surabaya Gubeng. Tapi tidak apa-apa, kapan lagi ada waktu yang longgar dan uang yang cukup untuk menikmati tim kebanggaan saya melawan Persebaya Surabaya. Turun dari kereta, rombongan terbagi dua. Kawan saya bersama kawan kuliahnya memisahkan diri menuju penginapan, sementara saya menunggu kawan SMA untuk rencananya ikut dalam menikmati sepak bola di Surabaya. Sengaja saya ajak karena dia sedang kuliah di Surabaya dan ajakan saya langsung diiyakan, “sebagai mahasiswa Surabaya, masa ga pernah nonton Persebaya”, ucapnya. Duh, betapa tidak enaknya, ternyata kuliah sedang libur dan dia sengaja untuk ke Surabaya untuk menemani saya. Walau katanya juga ada urusan di kampusnya, tapi tetap saja saya tidak enak hati hehe. Pikir saya, kawan saya ini layaknya bondo nekat (Bonek) Surabaya, yang nekat mendampingi dan menjaga saya selama di Surabaya. Terima kasih, Az!


Kamis, 26 Juli 2018

Hari pertandingan itu telah tiba! Rombongan akhirnya berkumpul lagi di tempat penginapan dan semua sudah bersiap sejak siang hari untuk menikmati pertandingan yang akan digelar sehabis maghrib itu, biasa, prematch syndrome selalu memuncak hebat ketika menikmati sepak bola secara langsung di stadion. Berangkatlah kami dengan ditemani oleh Bonek yang dikenal oleh kawan saya. Canda tawa sudah terasa walau pertama bertemu, tak ada kecanggungan. Diajaknya kami di warung pinggir sungai tengah kota dan dipersilahkan untuk bersantai sejenak sembari menikmati hidangan minuman yang menyegarkan dahaga di siang panas yang terik.


Menjelang sore kami bergegas menuju Stadion Bung Tomo. Mobil baru keluar dari tol dan jalanan sudah ramai dengan bonek yang berjalan kaki menuju stadion untuk mendukung tim kebanggaannya. Tak sedikit pula pendukung Persib Bandung yang hadir langsung di stadion, maka bercampurlah satu sama lain di stadion itu. Bonek-bonek begitu ramah dan gelak tawa selalu ada di ruang-ruang yang ada di stadion. Semua yang ada di situ merayakan pertandingan itu, tak ada pengecualian. Dan sebagai tuan rumah, bonek mampu menunjukkan jiwa yang ada pada Surabaya dengan begitu baiknya, menjaga tradisi-tradisi yang ada seakan tradisi itu tidak pernah hilang pada diri Surabaya. Sore yang hangat.


Menjelang dimulainya pertandingan malam itu, antara pendukung Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menyatu seolah tidak ada sekat yang tebal. Bernyanyi bersama, melompat bersama, saling berbalas chant, ataupun saling memberi ruang untuk saya bernafas karena begitu sesaknya stadion pada malam hari itu. Ah, lagi-lagi, bondo nekat menjaga jiwa Surabaya dengan nyanyian yang lantang, lompatan yang begitu energik. Karakter itu yang mampu meninggikan nama Persebaya Surabaya dan  saya berkesempatan langsung berada di satu stadion untuk mengamini segala predikat yang ada pada bonek, Persebaya dan Surabaya. Bahkan, sayapun sampai bergetar sekaligus berkaca-kaca karena begitu khusyuknya bondo nekat-bondo nekat itu menyanyikan lagu yang menjadi “lagu kebangsaan” Persebaya, Song For Pride.


Kemenangan berpihak pada Persib Bandung, Dramatis! 3-4 menjadi skor akhir pertandingan malam itu. Persebaya memang sedang berada di fase yang tidak baik kala itu, dan bondo-bondo nekat itu memahami sepanuhnya. Atas dasar cinta sepenuh hati yang ada dalam diri tiap-tiap bondo nekat, mereka melakukan segala macam kritik yang bisa dilakukan malam itu. “maine koyo taek! maine koyo taek!” bergema begitu keras, seolah lantunan itu menjadi tamparan yang telak untuk Persebaya dengan permainannya yang buruk. Sampah-sampah yang ada ditumpuk dan dibakar, seolah menunjukkan bahwa permainan yang layaknya sampah itu sudah seharusnya dihanguskan dari Persebaya. Stadion mulai ditinggalkan oleh bonek sebelum pertandingan berakhir, seolah mereka jengah untuk terus melihat kondisi Persebaya yang tidak seharusnya.


Pada akhirnya, malam itu, bondo-bondo nekat itu menjadi penjaga terakhir dari jiwa Surabaya yang bahkan  ketika Persebaya sudah mulai kehilangan jiwa Surabayanya, bondo-bondo nekat itu tetap menjaga jiwa Surabayanya. Bondo-bondo nekat itu, pada akhirnya, menjadi sosok yang paling memahami bagaimana seharusnya Persebaya memiliki jiwa Surabaya. Bondo-bondo nekat itu tahu. Dengan segala label-label baik positif maupun negatif, bondo-bondo nekat itu tetap tahu dan akan selalu tahu.


Kekalahan itu tak menjadikan bonek yang mendampingin seharian penuh rombongan saya menjadi berbeda sikap. Mereka tetap tahu bagaimana membagi antara kekesalan dengan Persebaya dan mengayomi tamunya dengan baik. Walaupun kalah, di perjalanan pulang canda tawa tetap menghiasi ruang sempit di dalam mobil karena terisi penuh. Bahkan, walaupun kalah, dengan baiknya bonek-bonek itu memberikan makan gratis kepada kami di Taman Apsari.  Betapa bondo-bondo nekat itu tetap mengayomi tamunya, jiwa-jiwa Surabaya itu terbukti tetap ada dalam kondisi apapun.


Jumat, 27 Juli 2018


Siang itu saya meninggalkan Surabaya dengan pemahaman bahwa Bonek untuk Persebaya dan Surabayanya selalu patut diberikan rasa hormat. Pendukung yang selalu total dan loyal untuk sebuah tim dan kota yang dibanggakannya, mereka tahu harus mendukung dengan seperti apa di setiap kondisi yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar