Minggu, 03 Mei 2020

Perjumpaan Pertama Dengan Zen RS



"Penulis yang baik adalah penulis yang lebih banyak membaca daripada menulis. Pembaca yang baik adalah pembaca yang lebih banyak berpikir daripada membaca", ucap Zen RS dalam kelas online tentang penulisan esai di Patjarmerah Kaget Virtual.

Tepat tengah malam, berita itu tiba-tiba muncul di twitter! Tiket gratis Kelas Virtual bertajuk "Soal Menulis Esai yang (Mungkin) Jarang Dibicarakan". Kelas yang mungkin biasa terjadi di dunia penulisan, tapi ini berbeda. Pembicaranya adalah Zen RS! Duh, sontak bergeraklah jari-jari ini untuk ikut dalam ujian keberuntungan itu. Berharap penuh dan, Ah! Gagal. Kesekian kalinya ketidakberuntungan itu berpihak kepada saya. Nasib baik kawan saya mendapatkan tiket gratisnya, dan alangkah beruntungnya dia memberikan tiket tersebut kepada saya. Jadilah saya, ketidakberuntungan yang beruntung, hahaha. Terkadang dalam hidup, kegagalan harus dilalui agar mencapai keberhasilan, atau agak lebih tepatnya, keberuntungan.

Kelas tersebut seolah-olah menjadi hal yang segar dalam keseharian yang begitu membosankan pada akhir-akhir ini dan jadilah perjumpaan yang pertama kali (duh, sayangnya cuma virtual) dengan idola atau panutan atau abang-abangan, apapun itu, dari semenjak SMA. Adalah Zen RS, orang yang mengenalkan media massa, pentingnya membaca buku, cara menulis tulisan yang baik, menikmati  dunia sejarah, mengenal Pramoedya Ananta Toer, George Orwell, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Soekarno, dan segala macam hal yang berkaitan dengan sastra, sejarah ataupun jurnalistik.

Kelas bersama Zen RS sudah menjadi hal yang tidak mungkin bisa dilewatkan, kegiatan sehari-hari saya tinggalkan sejenak. Memancing, membaca buku untuk menyelesaikan halaman-halaman akhir 1984nya Orwell, bermain komputer atau bahkan skripsi, semua saya tanggalkan terlebih dahulu demi kelas itu. Dan pada akhirnya, inilah ringkasan yang bisa saya tuliskan, agar tetap ada walaupun sudah dicatat di buku. Kalau kata orang kan, jejak digital di zaman kiwari menjadi hal yang tidak bisa dihilangkan, walaupun menurut saya tetap ada pihak yang bisa menghilangkan, iya betul, Soeharto. Orang aja bisa dihilangkan apalagi jejak digital, hihihi.

Terlambat masuk kelas! Ah, urusan organisasi kampus memang selalu saya utamakan sampai-sampai masuk kelas ke tokoh idolapun terlambat karena ada diskusi terkait program kerja organisasi. Barulah masuk sedang sudah berjalan sekitar 15menit, tapi untungnya masih di pembahasan awal. Baik, akan saya mulai dengan sedetail mungkin sampai akhir ringkasan.

Awal kelas membicarakan intisari penulisan sebelum masuk ke dalam penulisan esai. Prinsip dasar menulis, ucap Zen, adalah bagaimana pesan tulisan dapat tersampaikan jelas dengan penulisan kalimat-kalimat yang logis. Penggunaan kosakata harus digunakan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, bukan hanya untuk gegayaan ataupun mentasbihkan diri sebagai orang yang memiliki banyak kosakata. Selanjutnya, kepekaan dalam logika bahasa menjadi hal yang penting agar pesan dapat tersampaikan. Oleh karenanya, pahamilah bahasa indonesia sebagai suatu permasalahan dalam menyusun kalimat seperti saat menulis menggunakan bahasa inggris yang tentunya kita memikirkan tata bahasanya. Karena kita-kita ini, warga indonesia, terlampau meremehkan sehingga tidak terlalu menjadikan bahasa indonesia sebagai problematika penulisan. Tidak begitu paham SPOK yang benar, penggunaan konjungsi, dan macam-macamnya yang berakibat tulisan menjadi buruk karena pesannya tidak dapat tersampaikan dengan baik. Ringkasnya, Zen menyebutkan bahwa, "tulislah dengan kalimat yang benar dan secara logika bisa tuntas agar tulisan dapat tersampaikan dengan baik dan tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda".

Berlanjut ke dalam diskusi mengenai esai, disebutkan bahwa esai merupakan sesuatu yang kita kenal dengan baik karena sehari-hari, apalagi bagi individu yang mengeyam sekolah, sudah pasti pernah menulis esai. Esai sendiri pada awal mulanya dikenalkan oleh Montaigne pada abad 16 yang ditujukan untuk percobaan penyampaian gagasan dari pemikiran diri tentang suatu objek tertentu, bukan tulisan sebuah hasil yang final, tetapi percobaan, coba. Oleh karenanya, esai berada di tengah-tengah subjektivitas (karya sastra ataupun sajak) dan objektivitas (karya ilmiah). Mangan Ora Mangan Kumpul-nya Umar Kayam adalah contoh nyata esai layaknya karya sastra, sedangkan Madilog-nya Tan Malaka adalah contoh nyata esai yang mendekati Karya Ilmiah.

Alangkah baiknya, sama seperti tulisan lain, esai ditulis dengan menentukan medium yang menjadi target dan tujuan tulisan. Setelah itu baru kemudian dipahami akan seperti apa gaya penulisan, format penulisan, dan lain-lainnya dalam esai. Contohnya adalah menulis dalam media massa macam Tirto, Tempo atau Kompas, mereka memiliki ideologinya masing-masing yang menjadikan medium penulisannya berbeda. Maka, pahamilah medium dari masing-masing tersebut, jika kita salah dalam menentukan medium tersebut, celakalah kita, tulisan akan gagal untuk berhasil. 

Kemudian dipaparkanlah, yang dalam penyebutan oleh Zen, tujuh pertaruhan esai. Pertaruhan. Ketujuh pertaruhan itu adalah:

1. Tema tulisan.
Tema harus segar! Kalau tidak ada yang segar, tema harus dituliskan dengan sudut pandang yang menarik.

2. Judul yang cerdas.
Judul tidak melulu tentang rangkuman tulisan dalam satu kalimat. Mulailah mencari judul dalam bentuk frase yang padat, yang terbentuk dari kalimat-kalimat yang menarik dalam tulisan esai.

3. Pembukaan yang memikat.
Hal-hal yang menarik, taruhlah menjadi garda terdepan tulisan. Bagusnya pembukaan, akan membuat pembaca terpukau akan tulisan dan memilih untuk meneruskan membaca sampai tuntas.

4. Padat dan tidak bertele-tele.
Ruang tulisan menjadi penting untuk diperhatikan oleh penulis. Tulislah yang penting dan hindari kalimat-kalimat yang tidak penting. Karena jebakan yang paling sering membuat pembaca terjerembab adalah melantur.

5. Kutipan yang menggoda.
Zen mengibatkan kutipan layaknya parfum, mampu menjadikan hidup mengembang namun bisa juga mengempis. Carilah kutipan yang sesuai dan pahamilah bahwa kutipan merupakab sesuatu di luar dunia penulisan yang sedang dibangun untuk mempertajam apa yang ingin disampaikan.

6. Bahan atau sumber penulisan.
Semakin banyak bahan, maka akan semakin banyak referensi, tugas penulislah yang kemudian menyortir bahan-bahan mana yang sesuai. Adanya bahan tulisan yang relevan akan menjadikan tulisan lebih hidup dalam menjelaskan.

7. Lancar.
Ketidaklancaran menulis berakibat pada tulisan yang buruk. Baca kembali esai dan rasakan dengan kepekaan, maka akan ditemukan titik-titik Ketidaklancaran esai. Hal itu tentukan dengan membaca menggunakan sudut pandang berbeda, misal sebagai pembaca, bukan penulis. Karena penulis yang baik juga sebagai editor yang baik, habisi tulisanmu sendiri! Preteli hingga tidak ada sisa kecacatan dalam tulisanmu!

8. Penutup yang mudah diingat.
Susunlah penutup yang mudah diingat oleh pembaca, agar tulisan akan tetal dikenang dan mampu menjadi tulisan yang baik.

Itulah ringkasan yang bisa didapatkan, hampir dua jam setengah dan tidak terasa! Mata dan telinga mendengar, otak berpikir, tangan menulis. Sebuah kelas yang mampu mendorong semangat untuk (lagi-lagi) bekerja dalam dunia jurnalistik, mendorong semangat untuk menulis kembali (seperti saat menulis tulisan ini), dan mendorong untuk membaca banyak tulisan kembali.

Mari banyak-banyak berpikir, wahai diri sendiri! Mari mulai lagi banyak membaca, wahai diri sendiri! Menulis, menulis dan menulis! Karena Pram menyebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah dia yang menulis, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian. Tulisan akan abadi, manusia tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar