Sabtu, 02 Mei 2020

Memahami Minoritas


Jika Tuan ingin memulai untuk memahami dan mencoba turut serta dalam ke-minoritasan kami, yang pertama harus Tuan pahami adalah rasa kebersamaan dan kekeluargaan, rasa yang mendasari bagaimana keminoritasan dapat terus solid dan akan terus solid. Pahamilah dengan betul, Tuan. Resapi dengan benar-benar, Tuan.

Setiap Tuan melihat ke-minoritasan kami dari sudut pandang mayoritas, tentu akan dapat Tuan pahami dengan begitu mudah bahwa kami yang minoritas itu lemah, tak berdaya. Terlampau sedikit harapan untuk menciptakan apa yang menjadi harapan bersama. Terlampau sedikit pengaruh perubahan dan perjuangan yang dapat kami perjuangkan. Ya, begitu kan yang Tuan pikirkan selama ini?

Namun cobalah Tuan memahami kami, kami yang sebagai minoritas ini. Pahamilah rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang tumbuh dalam diri kami, kami yang Tuan anggap tak seberapa dan dipandang sebelah mata. Rasa kebersamaan yang tumbuh dalam diri kami begitu hebat, Tuan. Di dalam ke-minoritasan kami ini, rasa itu tumbuh seiring dengan berbagai rintangan dan permasalahan yang kami lalui. Kami selalu bersama dalam menghadapi rintangan dan permasalahan itu. Rasa kebersamaan itu tumbuh dengan sendirinya dari dalam diri ini, Tuan, dari dalam jiwa ini. Tumbuh semakin kuat, semakin besar, sehingga kami percaya segala rintangan dan permasalahan yang ada didepan sana dapat kami lalui dengan mudah. Kami lalui dengan rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan yang tumbuh tanpa paksaan. Kau sudah memahaminya, Tuan? Indah betul bukan?

Rasa kebersamaan ini, Tuan. Rasa kebersamaan ini menjadikan kami keluarga. Kekeluargaan kami sangat erat. Terlalu erat untuk bisa dilepaskan dan dipisahkan. Kekeluargaan yang begitu indah. Adalah sangat luar biasa kami sebagai minoritas dapat merasakan kekeluargaan yang begitu indah ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan terwujud kekeluargaan yang begitu erat dan hebat  dalam ke-minoritasan kami ini, Tuan. Sudahkan Tuan mendapatkan kekeluargaan yang begitu indah ini? Sudah atau belum, Tuan?

Jikalau Tuan sudah paham betul tentang rasa kebersamaan dan kekeluargaan kami ini, marilah melanjutkan perjalanan kepada rasa saling menjaga dan keterbukaan. Dalam konteks ini, tentunya Tuan berfikir hanya saling menjaga dalam hal menjaga satu sama lain bukan? Tidak, Tuan, tidak. Lebih dari itu, Tuan. Sungguh.

Rasa saling menjaga tentu bukan hanya dalam menjaga satu sama lain saja. Kami dalam setiap diri mulai belajar dan mulai mencoba untuk saling menahan egoisme, rasa egoisme ini perlahan-lahan mulai kami pendam. Semua ini agar tetap terjaga kesatuan yang telah kami bangun. Tentunya kami juga menjaga perkataan kami, tingkah laku kami, dan segala-galanya. Kau berfikir mengapa harus susah payah seperti itu kan, Tuan? Tidak, Tuan. Kami tidak terbebani dengan apa yang kami lakukan ini, karena ini untuk kebaikan kami semua. Dan kami lakukan ini tanpa paksaan, Tuan.

Keterbukaan menjadi hal yang penting, Tuan. Pahamilah dengan baik. Keterbukaan menjadikan kami mengerti satu dengan yang lain, Tuan. Tak perlu ada rahasia yang ditutup-tutupi, karena kami ini keluarga. Jika ada hal yang dirasa kurang baik, kami membicarakannya dengan keterbukaan, toh dengan ini hal tersebut dapat diatasi dengan baik. Dan dengan keterbukaan ini, kita semakin kuat. Begitu kuat. Dan begitu indah. Indah betul, Tuan.

Sudahkan Tuan memahami semua yang menjadikan kami begitu solid? Sudah? Baiklah, Tuan rupanya sudah memahaminya. Namun, masih ada satu hal lagi yang mendasari semua itu, Tuan. Mau taukah Tuan apakah itu? Kebahagiaan, Tuan. Ya, kebahagiaan. Kami yang ter-minoritaskan selalu bahagia dengan apa yang kami lakukan, baik yang kami lakukan itu berpengaruh kecil ataupun besar. Kami selalu mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kami yang minoritas ini.

Tak ada keterpaksaan, karena sudah ada kebersamaan yang kuat. Tak ada perbedaan yang membuat kami membeda-bedakan, karena kami semua sama dan kami merupakan keluarga. Tak ada rasa tidak aman, karena kami saling menjaga satu sama lain. Tak ada permusuhan dan saling benci, karena kami selalu terbuka dalam segala hal. Dan tak ada kesedihan, karena sudah tertutupi oleh kebahagiaan.

Begitulah, Tuan. Begitulah memahami kami. Sudah pahamkah Tuan? Sudah? Baiklah, Tuan, sekarang apakah Tuan mau mencoba untuk turut serta dalam ke-minoritasan kami ini? Atau Tuan tetap memandang kami sebelah mata?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar