"Barang siapa tidak tahu bersetia pada asas, dia telah terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati” – Pramoedya Ananta Toer, dalam Anak Semua Bangsa.
Sesaat setelah saya membaca kalimat tersebut, saya menghentikan membaca buku Anak Semua Bangsa karya Pramoedya. Baru berberapa lembar halaman yang saya baca memang, namun kalimat tersebut dengan cepat menguasai pikiran saya. Pikiran seorang anak muda yang masih tak tentu arahnya ini. Ya, pikiran saya. Ya, saya mulai memikirkan tentang asas. Asas yang harusnya sudah saya pegang untuk kehidupanku dimasa depan.
Anak seumuran saya, anak remaja yang disebut-sebut sebagai generasi muda Indonesia ini memang seharusnya mempunyai asas yang digunakan sebagai pedoman untuk masa depan. Saya termasuk generasi muda Indonesia, namun sialnya saya belum mempunyai asas yang bisa saya gunakan untuk pedoman di masa mendatang. Saya paham betul kalau saya masih seperti ini. Saya masih tidak tahu bersetia pada asas.
Di dalam pikiran saya ini sudah mulai banyak asas yang saya serap, sungguh. Saya sudah mencoba berpegang teguh pada suatu asas, asas yang setidak-tidaknya baik untuk masa depan saya, namun saat mempelajari asas lainnya, saya terpengaruh. Saya masih tidak tahu bersetia pada asas. Saya sebagai generasi muda memang masih mudah terpengaruh, tapi hal ini sungguh tidak saya harapkan.
Saya percaya bahwa seiring waktu kami akan memahami berbagai asas dan kami bisa berpegang teguh pada asas yang menurut diri kami asas itu baik untuk dijadikan pedoman di masa datang. Tapi untuk diri saya, entah kapan dan bagaimana. Saya juga percaya bahwa asas yang kita jadikan pedoman itu, akan sangat-sangat berpengaruh untuk masa depan kita.
Di zaman yang sudah seperti ini, zaman modern, kami sebagai generasi muda pada akhirnya dituntut untuk selalu berpikir ke masa depan. Kami generasi muda pada zaman ini, sudah terlalu sulit untuk menikmati masa muda yang kata banyak orang itu indah dan menyenangkan. Tidak, masa muda saya kini diisi oleh beban pikiran untuk menjadi baik di masa depan, menjadi apa yang kami harapkan sedari kecil. Tentu untuk masa depan yang kami harapkan itu, kami harus memiliki asas untuk dijadikan pedoman. Suatu asas yang sesuai dengan diri kami.
Saya sedang tidak berbicara tentang agama. Agama saya kira kami semua sudah memiliki itu sejak lahir, toh kami kan beriman dan beragama. Saya sendiri menginginkan lebih dari pedoman agama saja. Saya ingin ada asas yang bisa menyeimbangkan pikiran saya. Karena ini sudah zaman modern, pedoman agama tujuan utamanya untuk akhirat kami nanti. Saya berpikir bahwa kami harus memiliki asas untuk menghadapi dunia yang terlampau rumit ini.
Ya begitulah sekira-kiranya tentang masalah asas yang menguasai pikiranku ini. Jadi, kami sebagai generasi muda harus memiliki asas untuk masa depan yang ingin kami raih. Ya, setidak-tidaknya menurut pemikiran saya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar